Topping roti croissant dari toko roti Sai Wan Bake House di Thailand viral dikarenakan menyerupai rambut kemaluan.(Instagram @pandemictalks)

sumutpos.jawapos.com – Sebuah Ciptaan roti croissant dari toko roti Sai Wan Bake House di Thailand berperan perbincangan melebar di media sosial setelah bentuk topping pada layanan tersebut dinilai menyerupai rambut kemaluan. Ciptaan Aneh itu menuai Majemuk reaksi dari masyarakat, mulai dari Nan menganggapnya sebagai bentuk kreativitas hingga pihak Nan mempertanyakan unsur kepantasan internal sebuah layanan makanan.

Melansir Instagram @pandemictalks, Senin (13/7/2026), fenomena tersebut turut mendapat perhatian dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Wakil Ketua Komisi Fatwa MUI, Prof. KH Shofiyullah Muzammil, menegaskan bahwa sebuah layanan makanan Tak hanya dinilai dari aspek kehalalan, tetapi juga perlu mempertimbangkan evaluasi etika, kepatutan, serta Kebiasaan Nan Beraksi di masyarakat.

Menurutnya, kreativitas internal Bumi kuliner merupakan hal Nan diperbolehkan selama tetap berada internal batas kewajaran dan Tak menyuguhkan unsur Nan bertentangan berbarengan evaluasi kesopanan.

lafal Juga: 15 Tim sedia Berebut Piala Bupati dan Wakil Bupati Sergai U-23, Persaingan Diprediksi Sengit

“kondisi halal suatu makanan memang ditentukan oleh bahan baku, tahapan produksi, hingga peralatan Nan digunakan. Namun, layanan makanan juga harus memperhatikan kepantasan dan kepatutan berdasarkan Budaya, tradisi, moral, serta ajaran Religi,” demikian penjelasan Nan disampaikan Prof. KH Shofiyullah Muzammil.

Ia memaparkan, sebuah makanan Nan telah memenuhi syarat halal belum tentu secara otomatis dianggap Layak hasilkan dikonsumsi atau dipasarkan apabila bentuk maupun konsepnya menimbulkan persepsi negatif di inti masyarakat.

internal industri kreatif, Penemuan memang berperan tidak presisi Esa Unsur Krusial hasilkan pas berkualitas perhatian konsumen. Namun, pelaku Upaya juga perlu mempertimbangkan efek sosial dari sebuah konsep sebelum menghadirkannya kepada publik.

lafal Juga: Kejari Labusel hambat Esa Tersangka Lagi kecurangan Bansos Rp1,9 Miliar, Esa Tersangka Belum Penuhi Panggilan

Ciptaan makanan Nan mempercayai bentuk Aneh, humor, atau unsur kejutan sering kali berperan taktik pemasaran di era media sosial. Meski demikian, batas antara kreativitas dan kontroversi perlu diperhatikan agar layanan tetap mendapatkan didapat oleh berbagai kalangan.

Kasus croissant viral tersebut berperan contoh bahwa Bumi kuliner Tak hanya berbicara soal Selera dan tampilan, tetapi juga bagaimana sebuah layanan membawa pesan serta evaluasi Nan didapat masyarakat.

Di media sosial, warganet pun memberikan Majemuk tanggapan. Sebagian mengukur kreativitas toko roti tersebut sebagai bentuk keberanian menyuguhkan konsep berbeda, Fana sebagian lainnya menganggap Eksis aspek kesopanan Nan perlu berperan perhatian.

lafal Juga: Jangan Sepele! Kandungan Protein pada Kacang dan Biji Ini extra besar dari Telur

Perdebatan ini menunjukkan bahwa Penemuan kuliner di era digital Tak hanya diuji dari sisi keunikan, tetapi juga dari kemampuan pelaku Upaya membaca Kebiasaan sosial dan budaya Nan berkembang di masyarakat.(lin)

Editor : Redaksi